Cara Bijak Mengatasi Anak yang Mudah Emosi

anak yang mudah emosi

Para bunda mungkin sering dibuat bingung mengatasi anak yang mudah emosi. Bahkan tidak jarang juga terpancing emosi sehingga nekat melakukan hal tidak seharusnya, misalnya memukul, mengunci di kamar mandi, atau lainnya.

Supaya tidak sampai terjadi hal-hal yang buruk, misalnya efek traumatis atau gangguan mental ringan hingga berat, sebaiknya ketahui cara bijak mengatasinya.

Begini Cara Mengatasi Anak yang Mudah Emosi

Di usia anak-anak, mereka cenderung melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan baik buruknya karena kesadaran emosinya belum terbentuk. Hal ini menjadi PR tersendiri bagi orang tua saat menghadapi sifatnya yang mudah emosi.

Kebijaksanaan orang tua dalam hal ini sangat diharapkan agar tidak sampai bertindak nekat. Berikut akan dijelaskan cara mengatasi anak yang mudah emosi:

1. Pahami Pemicunya

Untuk mengatasi emosi anak yang mudah meledak, pertama-tama pahami terlebih dahulu apa pemicunya. Perhatikan apakah ada waktu tertentu anak lebih suka marah-marah dan lihat juga apakah ada polanya atau tidak.

Ada beberapa kemungkinan mengapa emosi anak memuncak. Pada anak yang sudah menempuh pendidikan, emosinya cenderung memuncak ketika tugas di sekolah terlalu banyak atau sedang bersitegang dengan temannya.

Sedangkan pada balita, penyebabnya bisa karena permintaannya tidak dituruti, tidurnya terganggu, atau dikarenakan pemicu lainnya.

2.Melakukan Tindak Pencegahan

Setelah mengetahui penyebab dan polanya, orang tua semakin mudah untuk mencegah sekaligus menangani emosi anak yang memuncak. Berusahalah menjadi pribadi yang menghadirkan ketenangan dan kenyamanan.

Penanganannya, lakukan kontak fisik dengan menggosok punggung atau lengannya sampai emosi mereka reda. Indikatornya bisa dilihat dari deru nafas atau kecepatan detak jantung.

Penanganan lainnya yaitu dengan meminta anak untuk menarik napas dalam-dalam dengan hitungan 1 sampai 10. Teknik ini cukup efektif meredakan emosinya hanya dalam waktu singkat.

3. Berikan Waktu untuk Sendiri

Mulai ajari si kecil untuk mengendalikan emosinya dengan memberikan waktu sendiri. Setelah dirasa perasaannya sudah mulai stabil, dekati mereka kemudian bawa ke tempat tenang dan jauh dari keramaian.

Anda dapat mulai menanyakan secara baik-baik penyebab emosinya meledak atau menunggu sampai anak mau menyampaikan apa yang dirasakannya. Hal terpentingnya adalah pastikan berada di sampingnya supaya mereka tidak merasa sendiri.

Dengan begitu, ketika emosinya kembali memuncak, secara otomatis anak akan mencari tempat tenang dan meredakan emosinya terlebih dahulu sebelum menyampaikan penyebab mengapa ia bisa marah.

4. Membantu Melabeli Perasaan

Memperkenalkan kesadaran emosi perlu dilakukan sedini mungkin untuk mempermudah si kecil menyikapi apa-apa yang dirasakannya.. Caranya adalah dengan menyampaikan langsung kepada anak bahwa mereka sedang marah atau sedih.

Perbanyak waktu bersama anak untuk memancing mereka mau bercerita mengenai apa saja yang dirasakannya.

Pasalnya, anak dan remaja sekarang cenderung menyimpan apapun yang dirasakannya sendirian sehingga emosinya mudah meledak ketika dipicu oleh suatu hal. Meski terlihat baik, namun kenyataannya sikap tersebut malah membahayakan kesehatan mentalnya.

5. Tawarkan Pilihan

Orang tua tentu saja ingin yang terbaik bagi anaknya, akan tetapi tidak jarang yang mengatur seluruh aspek kehidupan anak sehingga mereka tidak memiliki kendali terhadap hidupnya sendiri.

Pada masa transisi emosi, memang ada kemungkinan emosi anak mudah meledak. Sebagai orang tua, tawarkan dua atau tiga pilihan. Selanjutnya, minta buah hati memilih salah satunya dengan mempertimbangkan efek selanjutnya.

Cara Mendidik Anak Agar Tidak Manja

Itulah cara mengatasi anak yang mudah emosi sekaligus memperkenalkan terkait kesadaran emosi. Meski perlu kesabaran dan ketelatenan, namun hasilnya akan sangat baik untuk kehidupan kedepannya.

Anda telah membaca informasi tentang "Cara Bijak Mengatasi Anak yang Mudah Emosi" yang telah dipublikasikan oleh Manasuka Blog. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Terima kasih.

You May Also Like

About the Author: Rismal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *